Monday, June 22, 2009

Ingin Gunakan Pedang Atau Pisau Kecil?


Perbedaan pendapat itu bisa saja terjadi dan menyebabkan adu argument dimana pihak yang dibela itu benar. Misalnya saja mengenai para pendukung tersangka penganiayaan dan pendukung korban penganiayaan. Begitupula dalam hubungan persahabatan yang sangat wajar terjadi kesalahpahaman. Jangankan persahabatan yang tidak memiliki hubungan darah, dalam hubungan orang tua dan anak saja bisa terjadi beda pendapat. Namun, bagaimanapun juga kita harus berusaha sebaik mungkin untuk menyikapinya.

Ada sebuah kejadian yang dialami Cholis dimana dia pernah diperlakukan tidak adil dengan rekannya di sekolah (dimanfaatkan). Dan ketika dia kuliah, dia berusaha menjaga jarak dengan teman barunya agar dia tidak tersakiti dengan cara mementingkan dirinya sendiri atau tidak peduli terhadap orang lain. Akibatnya, dia di jauhi dengan rekan-rekannya. Dia tidak berpikir bahwa sifat temannya yang baru bisa saja berbeda dengan teman-temannya sebelumnya.

Ibarat kita membawa pedang dan pisau kecil. Bila kita memegang pisau kecil, tentu orang akan menganggap itu wajar karena bisa memotong makanan namun bila kita memegang pedang, tentu banyak orang yang takut dan bisa berpikiran buruk terhadap kita. Beda halnya ketika kita berada di medan pertempuran dimana lebih baik kita melindungi diri dengan sebuah pedang dibandingkan sebilah pisau kecil. Yah, menjaga jarak terhadap orang lain boleh saja dilakukan namun dikondisi yang tepat dan jangan menyamakan sifat seseorang dengan yang lainnya.

Puncak kebijaksanaan ialah takut kepada Allah. Sebaik-baik yang tertanam dalam hati adalah keyakinan. Keragu-raguan (dalam beriman) termasuk kekufuran. Kepemudaan termasuk kelompok kegilaan (radikal). Orang bahagia adalah yang dapat mengambil pelajaran dari (peristiwa) orang lain, dan orang yang sengsara ialah yang sengsara sejak dalam kandungan ibunya. Tiap perkara yang akan datang adalah dekat. (HR. Al-Baihaqi)

Begitu halnya ketika kita trauma, kadang kita takut bahwa kejadian itu akan terulang lagi pada kita. Misalnya saja, gagal dalam pernikahan karena penghianatan. Mawas diri boleh saja, namun bila kita terlalu larut dalam ketakutan dan mind set bahwa semua lawan jenis itu buruk, maka pintu-pintu kebahagiaan dalam hidup kita bisa tertutup. Mengapa? karena kita terlalu tinggi mendirikan jarak dengan orang lain, sehingga ketika ada seseorang yang tulus dengan kita, kita tidak mempercayainya sama sekali. Membicarakan kesetiaan, saya jadi ingat dengan burung dara.

Kemarin, saya ke tempat teman yang memelihara burung dara. Dia berkata bahwa burung dara yang pasangannya sudah mati, bisa dipasangkan lagi dengan burung dara yang lain. Kedua burung itu ditempatkan dalam sebuah sangkar selama sebulan. Meski awalnya terjadi keributan di dalam sangkar, namun alhamdulillah, mereka bisa rukun dan saling setia. Hal ini terbukti adanya perkelahian ketika ada burung lain dimasukkan ke sangkar yang bukan pasangannya.

Bila kita perhatikan, burung dara saja bisa akur, namun mengapa manusia sulit? Apakah karena burung tidak memiliki rasa dendam. Burung saja bisa setia, namun mengapa di dunia ini masih ada perselingkuhan dan penghianatan? Jawabannya karena sifat manusia dan sifat burung ada yang berbeda. Namun, mungkin saja dari kejadian ini, Allah ingin seluruh manusia di bumi ini belajar dari burung-burung itu. Wallahu A’lam

Semoga Allah mengampuni kesalahan saya dan saudaraku semua dan menambah keberkahan dalam silaturahmi ini amin.

Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Mahasuci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka." (Ali 'Imran : 191)

Pasuruan, 23 Juni 2009
Best Regards,


c-yakuw
flacheya@gmail.com
http://cheya.blogspot.com

0 comments: