Tuesday, June 16, 2009

Beberapa hari yang lalu, saya refreshing ke sebuah tempat wisata yang cukup terkenal di Jawa Timur. Pemandangannya indah dan permainanpun beragam sehingga pengunjung betah berada disana. Namun sayang, di dalam kawasan semegah itu belum kami temukan masjid atau mushola. Astaghfirullah... Setelah saya cermati, ternyata masjid ada di luar arena dan itu berarti untuk masuk harus membeli tiket kembali. Dalam hati saya bertanya,”Mengapa rancangan bangunannya seperti ini? tidakkah memikirkan bagaimana bila pengunjung akan sholat?”

Tidaklah kamu tahu bahwasanya Allah: kepada-Nya bertasbih apa yang di langit dan di bumi dan (juga) burung dengan mengembangkan sayapnya. Masing-masing telah mengetahui (cara) sembahyang dan tasbihnya[1043], dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.(QS. An Nuur :41)

Kondisi seperti ini memang ujian bagi pengunjung, apakah mereka lebih mementingkan refreshing, tertawa dengan permainan yang mereka ikuti dibandingkan dengan kewajibannya menghadap Allah? Astaghfirullah... Beberapa menit kemudian, saya menyaksikan dua anak kecil yang menghamparkan sajadah di atas rumput hijau kemudian bertakbir. Subhanallah... sungguh, kesenangan yang mereka rasakan tidak membuat mereka menunda menghadap Allah. Mereka lebih memilih kebahagiaan yang abadi dibandingkan dengan yang sesaat. Apakah orang yang lebih dewasa dari mereka juga ada yang berbuat seperti mereka? Wallahu A’lam.

..................... Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. Dan mohonlah ampunan kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(QS. Al Muzzammil : 20)

".................Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran: (QS. Az Zumar: 9)

Saya jadi teringat dengan kejadian ketika saya pulang dari Malang. Di depan saya ada mobil yang membawa benda panjang seperti paralon yang diletakkan di atap mobil. Kemudian dibelakangnya diberi kresek merah yang ditali sehingga bisa terangkat ketika tertiup angin. Mengapa pengendaranya berbuat demikian? karena mereka ingin memberikan sinyal agar kendaraan dibelakang mereka tidak terlalu dekat sehingga bila ada pengereman mendadak tidak terjadi accident. Bila dari sinyal-sinyal itu kita bisa lebih berhati-hati dan menjaga jarak, lalu bagaimana dengan sikap kita yang salah? Bukankah Allah telah memberikan sinyal atau petunjuk kepada HambaNya? Lalu mengapa kita masih mendekati apa yang harus kita hindari? Laaila ha illa anta subhannaka inni kuntu minadzalimin...

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah[845] dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih Mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih Mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.(QS. An Nahl : 125)

Saya manusia yang seringkali khilaf. Karenanya, dalam kesempatan ini saya ingin mengingatkan diri saya kembali dan semoga jiwa, raga, hati dan langkah kita berada dijalan yang lebih diridhai oleh Allah amin...

10 Juni 09
c-yakuw
http://cheya.blogspot.com
flacheya@gmail.com

0 comments: