cHeYa
this site the web

Syeina

Senyum tipis itu tak lagi tersirat. Bahkan dalam mimpi pun wanginya hilang untukku. Cerita ini berakhir dalam benaknya. Tak lagi menyusuri stial lekuk waktu di kehidupannya. Tapi, bagiku dia lebih dari nafasku. Degub itu menyatu dalam darah. Lekat... tak bisa tersapu oleh waktu. Dan 10 tahun berlalu. Ujung itu tak bisa kutemukan. Ujung dimana kenangan tak lagi ada.

Mentari masih hangat kuku saat benda persegi itu terdorong di atas trolly. puluhan bangku yang kosongpun menjadi saksi bahwa perasaannya melenyapkan segalanya, kecuali sakit yang ia sematkan di kedalaman tangisanku. Masih terngiang riuhnya gelas dan piring yang kemudian terhambur dihadapanku. Pernikahan yang membuaiku, tak kan terjadi. Caraku ternyata mengembalikannya pada jalan cinta yang pernah ia jalani. Ketidakjujurannya adalah rasa yang tak teringkari. Bahkan selamanya. Aku marah terduakan. Sekeras aku menahannya, aku semakin lemah.

“Aku bukan kejora yang selalu bisa kau kagumi,” ujar syeina
“Aku membutuhkanmu, tak peduli dengan keberadaannya, bahkan seribu dia”
“Bila dirimu lebih membaca,” syeina berkata dengan lirih
janjimu bukankah bersamaku?”
 “Janji itu tak kubantah. dirimu satu-satunya lelaki yang ku ingat”
“Kumohon.... jangan berubah....” pintaku merendah.

 Aku tertunduk lesu bersama harga diriku yang jatuh. Mungkin ini kah karma atas sikapku yang kerap memainkan hati wanita. Dan syaina juga salahsatunya. Hampir lima menit kami terdiam. Merenungi tentang pilihan yang akan membawa tumpukan lara atau sebaliknya.

“Tunggu esok di altar pernikahan kita,”

Akupun tersenyum lega mendengarnya. Syeina rela meninggalkan kekasihnya yang telah kembali. Syeina menghentikan penantiannya demi menghabiskan sisa hidup denganku.

 Hari itu semua orang berduyun-duyun menghadiri acara pernikahanku dengan syeina. Gadis yang tak terlalu cantik, tapi terlalu dalam memikatku. syeina... bagaimana bisa seperti itu? Ia berbeda kasta denganku, juga sebatangkara. Namun pesonanya membuatku tak bisa berpaling.

Detik demi detik terasa lama.... di ujung lorong itu kutunggu kehadirannya dengan gaun putih yang sudah kami pesan setahun sebelumnya. Semoga pernikahan kali ini tidak tertunda seperti saat itu. Kekasihnya sudah ku usir dari kota ini dan sekarang terkurung disebuah kamar. Egokah aku? Sadis kah? Tidak ini untuk syeina. Ia yang tak berhak memisahkanku dengan syeina. Aku pikir lebih pantas karena pernah menyelamatkannya di pesisir pantai.. menemaninya saat ia hilang ingatan. Dan, sejak saat itu... ia menjadi sebuah awal dari harapan besar. Bagaimana bisa aku melepas syeina? Bagaimana dengan kekosongan jiwaku bila ku melepasnya?

Ku lihat syeina berjalan menuju arahku. Ia begitu cantik dan aku jadi berpikir mengenai kelayakanku hidup bersamanya. Aku tertegun cukup lama hingga sapaan penghulu membuyarkan lamunanku.

“aku sudah mendapat kesetiaanmu, tapi jangan lara mu. Cinta itu bukan disini,” Syeina mengernyitkan dahi dan kebingungan terlihat jelas di wajahnya

“Pergilah.... tempatmu kembali bukan disini” ujarku sembari menepuk dada

“Bagaimana bisa dirimu bertindak bodoh seperti ini? ini keinginanmu”
“Namun bukan keinginanmu. Pergilah, aku mulai terbiasa mengigil tanpa senyumanmu”

Ku pegang erat tangannya dan membawanya keluar dari kerumunan orang. Aku tak peduli mereka berbicara apa, begitupula dengan tanggapan keluargaku. Tak peduli banyaknya piring dan gelas yang mereka lempar pada kami akibat rasa malu mereka.

 ============================================

Penumpang pesawat garuda dengan tujuan penerbangan Surabaya silahkan menuju pesawat melalui jalur gate 4b. Atas perhatiannya terima kasih.

Suara pengunguman itu membuatku bergegas dengan ransel hitam dipunggungku. Ku sadari, syeina tak pernah menduakanku. Namun kebodohanku yang selalu meyakinkan diri bahwa aku bisa menetap dihatinya. Cintaku bukan membentuknya untuk mengasihiku. Balas budinya pun tak patut termanfaatkan demi kebahagiaan imajiner ku. Hari Ini, Aku Ingin Bertemu Syeina. Kudengar, suaminya meninggal dua tahun lalu. Dan, sepertinya... dalam hati syeina, aku masih tak layak disana.

 “Menikahlah denganku syeina,”
“Apa dirimu yakin kita diciptakan satu sama lain?”
“Kesalahanku mungkin tak termaafkan, namun bila kepercayaan itu bisa ku raih”
“Aku tak meragukan cintamu,”

Syeina tersenyum dan kami menatap langit yang sama.

 =============

Behind the stories : nulis sambil muterin lagu mellow kyk geisha-cobalah mengerti. lama ga nulis cerpen.... lama ga baca buku... jd harap maklum jelek cerpennya hehehe... tp gpp yg penting MENCOBA :D wkwkwkw... ok tq for reading ;)

 

W3C Validations

Cum sociis natoque penatibus et magnis dis parturient montes, nascetur ridiculus mus. Morbi dapibus dolor sit amet metus suscipit iaculis. Quisque at nulla eu elit adipiscing tempor.

Usage Policies